RSS

Pengkhianatan Syi’ah dalam Lembaran Sejarah (bagian 2)

28 Nov

Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Ismailiyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang.

Tulisan berikut adalah kelanjutan catatan kelam daulah Fathimiyyah yang berideologi Syi’ah. Termuat dari sejumlah karya tulis para ulama, di antaranya adalah kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir rahimahullaah, seorang ulama besar bermadzhab Syafi’i.

 

Prahara pada Tahun 478 H – 482 H

Pada tahun 478 H, Syi’ah Rafidhah menyerang umat Islam di Baghdad. Terjadilah peperangan dengan jumlah korban yang sangat banyak dari kedua belah pihak.

Padahal, pada tahun itu terjadi wabah demam di mana-mana, kematian binatang-binatang ternak secara mendadak, serta wabah tha’un (sejenis penyakit pes) yang menyerang secara luas di Irak, Mekkah, Madinah, dan Syam.

Pada tahun 481 H, Syi’ah Rafidhah melakukan penyerangan terhadap kaum muslimin di Baghdad. Peperangan terjadi sekian kali dengan jumlah korban yang cukup banyak dari kedua belah pihak.

Pada tahun 482 H, penduduk Karkh yang beraliran Syi’ah Rafidhah menyerang umat Islam hingga terjadi peperangan yang berkepanjangan. Peristiwa tersebut menelan korban sebanyak 200 jiwa dari kedua belah pihak.

 

Prahara pada Tahun 490 H – 494 H

Pada tahun 490 H, daulah Fathimiyyah mengirim menteri yang bernama Badrul Jamali sebagai duta kepada panglima perang salib pertama. Menyampaikan kesiapan untuk bekerja sama menyerang kaum muslimin di wilayah Syam yang dikuasai daulah Salajiqah dari Turki.

Perjanjian tersebut berisi adanya kesepakatan pembagian wilayah. Daerah Syam sebelah utara akan dikuasai bangsa Eropa, sedangkan bagian selatan Syam akan dikuasai oleh Syi’ah.

Meski, bangsa Eropa awalnya keberatan dengan perjanjian bilateral tersebut. Karena tujuan utama bangsa Eropa adalah ingin menguasai Baitul Maqdis. Namun pada akhirnya mereka menyetujui permohonan Syi’ah.

Pada tahun 492 H, bangsa Eropa tiba dan menyerang wilayah Syam. Orang-orang Syi’ah membantu mereka dengan bala tentara beserta berbagai senjata. Setelah melewati peperangan dahsyat, akhirnya pasukan salib sampai kepada pengepungan Baitul Maqdis.

Mereka mempergunakan lebih dari 40 manjaniq (ketapel pelontar ukuran besar) untuk menghancurkan tembok-tembok pertahanan Baitul Maqdis. Sementara sejumlah uskup memberikan motivasi kepada tentara-tentara salibis untuk gigih dalam berperang. Dengan penuh keangkuhan, mereka maju mengatas-namakan perang suci membela agama.

Hari Jum’at 7 Sya’ban, pasukan salib yang berjumlah 1.000.000 tentara berhasil menduduki Baitul Maqdis. Pasukan Salib menjarah benda-benda berharga dari Baitul maqdis. Mereka berbuat sewenang-wenang dan membunuh lebih dari 60.000 warga di sekitar Baitul Maqdis.

Perang salib sendiri berlangsung selama dua abad. Invasi militer pertamanya pada tahun 440 H dengan dukungan dari pihak gereja katolik di Roma. Tahun itu mereka berhasil menguasai sejumlah wilayah di Syam dan sekitar sungai Eufrat. Pihak gereja mengirimkan para uskup dalam perang tersebut. Bahkan memprovokasi raja-raja Eropa untuk turut andil dalam misi besar ini.

Pada tahun 494 H, pasukan Syi’ah menyerang daerah Isfahan dan sekitarnya. Mereka membunuh umat Islam di sana, menjarah rumah-rumah yang ada, dan mengumumkan akan membunuh orang-orang yang dianggap terhormat.

Terjadilah pertumpahan darah di daerah tersebut. Sebelumnya, mereka juga merebut benteng dalam jumlah banyak. Hal ini mengakibatkan kelemahan di tubuh kaum muslimin, hingga pasukan salib mudah menguasai wilayah-wilayah Islam.

 

Prahara pada Tahun 496 H – 500 H

Pada tahun 496 H, seorang pengikut Syi’ah Rafidhah membunuh seorang ulama bernama Abul Muzhaffar al-Khujandi usai mengajar di masjid jami’ di daerah Rayy. Beliau adalah salah satu fuqaha’ bermadzab Syafi’i.

Pada tahun 500 H, seorang menteri bernama Fakhrul Malik terbunuh di Naisabur pada bulan Dzulhijjah. Ketika beliau keluar dari rumahnya sore hari dalam keadaan berpuasa, lalu bertemu dengan seseorang yang mau melaporkan pengaduan dengan membawa berkas.

Beliau pun mendekat dan membacanya. Di kala beliau membaca dengan seksama, pemuda yang kelak diketahui sebagai pengikut Syi’ah itu, langsung menikamnya dengan belati hingga meninggal pada usia 66 tahun.

Pemuda tersebut akhirnya ditangkap dan dibawa ke hadapan Sultan. Diapun mengakui perbuatannya. Bahkan berdusta bahwa dirinya disuruh oleh para sahabat Menteri. Akhirnya, pemuda itu dan para sahabat Menteri dijatuhi hukuman mati.

 

Prahara pada Tahun 503 H – 519 H

        Pada tahun 503 H, seorang pengikut Syi’ah melakukan percobaan pembunuhan terhadap menteri yang bernama Abu Nasr, namun upaya tersebut gagal. Hanya saja Abu Nasr terluka akibat hal itu.

Setelah dinterogasi, akhirnya pengikut Syi’ah itu memberitahukan keberadaan teman-temannya (Syi’ah Ismailiyyah) yang ikut andil dalam misi tersebut. Setelahnya, mereka semua dijatuhi hukuman mati.

Pada tahun 505 H, umat Islam di bawah pimpinan Maudud bin Zanki, raja Mosul menyerbu pasukan salib yang berada di Syam. Kaum muslimin meraih kemenangan, membunuh banyak tentara salibis, dan berhasil merebut benteng dalam jumlah yang banyak dari tangan bangsa Eropa.

Lalu pasukan Islam kembali. Ketika memasuki Damaskus, Maudud masuk masjid jami’ untuk menunaikan shalat di dalamnya. Datanglah seorang pengikut Syi’ah Ismailiyyah yang menyamar sebagai pengemis.

Pengemis gadungan tersebut meminta sesuatu kepada Maudud. Ketika beliau mendekat hendak memberi, pengikut Syi’ah itu langsung menikam tepat di hatinya hingga meninggal dunia.

Pada tahun 519 H, seorang pengikut Syi’ah tega membunuh hakim senior yang bernama Abu Sa’d al-Harawi di daerah Hamadan. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

 

Prahara pada Tahun 562 H – 565 H

Pada tahun 562 H, seorang menteri daulah Fathimiyyah bernama Syawir, mengirim utusan kepada raja Eropa di Baitul Maqdis, untuk meminta bantuan menyerang pasukan Nuruddin Mahmud di Mesir. Akhirnya pasukan salib dengan bantuan orang-orang Syi’ah menyerang Mesir.

Setelah terjadi peperangan yang cukup alot di antara kedua belah pihak, pasukan gabungan tersebut dapat dikalahkan pasukan Islam pimpinan Nuruddin Mahmud.

Pada tahun 564 H, seorang staf khalifah Fathimiyyah bernama at-Thawasyi mengirim surat dari istana kerajaan kepada bangsa Eropa, agar membantu mengusir pasukan Islam pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dari Mesir.

Di tengah jalan, utusan yang membawa surat rahasia tersebut dapat ditangkap. Shalahuddin al-Ayyubi akhirnya mengetahui akan pengkhianatan ini. Lalu at-Thawasyi dapat dibunuh di kemudian hari.

Pada tahun 565 H, para pejabat Syi’ah mengirim surat meminta bantuan kepada bangsa Eropa. Pasukan salib pun datang ke Mesir dari segala arah.

Memasuki bulan Safar, bangsa Eropa dengan bantuan orang-orang Syi’ah mengepung kota Dimyath selama 50 hari dan membunuh kaum muslimin yang ada di sekitarnya.

Shalahuddin al-Ayyubi khawatir mereka nantinya akan menduduki kota al-Quds (Yerussalem), maka beliau meminta bantuan kepada Nuruddin Mahmud di Damaskus. Nuruddin segera mengerahkan pasukan besar untuk membantu umat Islam disana. Akhirnya, bangsa Eropa pergi meninggalkan Dimyath.

Pasukan salib tidak melanjutkan misinya karena terjadi silang pendapat  di antara mereka tentang strategi apa yang akan dilaksanakan. Apalagi, adanya laporan bahwa pasukan Nuruddin Mahmud menyerbu wilayah mereka, mengepung benteng terkuat di kota Karkh dan menguasainya.

Selama hidupnya, Nuruddin Mahmud berjuang dengan segenap kemampuannya untuk membela agama Allah. Menjaga wilayah perbatasan, melawan kejahatan negara kafir. Beliau berhasil mengembalikan lebih dari 50 kota yang dulunya dikuasai kaum Nasrani.

 

Catatan tentang Daulah Fathimiyyah

Para pembaca yang mulia, sesungguhnya para khalifah daulah Fathimiyyah adalah sekumpulan orang yang paling banyak menimbun harta, gemar melakukan kezaliman, dan paling buruk riwayat hidupnya dalam sejarah.

Kemungkaran dan kebid’ahan banyak terjadi di mana-mana. Orang-orang jahat bertambah banyak di berbagai tempat, sementara orang-orang shalih semakin sedikit. Ditambah pula ajaran agama Nasrani berkembang pesat di Syam.

Selama daulah Fathimiyyah berkuasa, banyak tempat yang dihancurkan oleh pasukan salib. Banyak pula harta yang dirampas oleh orang-orang kafir kala itu.

Bangsa Eropa menguasai wilayah-wilayah Islam yang dahulunya berhasil ditaklukkan oleh para sahabat Nabi. Umat Islam banyak yang terbunuh, banyak kaum wanita dan anak-anak ditawan oleh bangsa Eropa. Tidak ada yang mengetahui jumlah-nya secara persis kecuali Allah l saja. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

Syi’ah tega melakukan berbagai kejahatan disebabkan adanya keyakinan sesat bahwa kaum muslimin di luar kelompoknya adalah kafir dan halal darahnya.

 

Akhir Kata

Imam Syafi’i rahimahullaah berkata tentang sekte Syi’ah, “Aku tidak pernah melihat para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam ucapan, dan bersaksi dengan persaksian palsu daripada Syi’ah Rafidhah.” (lihat al-Ibanah al-Kubra)

Hati yang lurus tak akan tenang dengan kejahatan dan pengkhianatan mereka. Luka-luka di hati kaum muslimin jelas begitu mendalam.

Namun, semestinya kita bersikap sesuai syariat dalam menyikapi permasalahan tersebut. Yaitu dengan menghindari tindak anarkis dan menyerahkan urusan tersebut kepada pemerintah.

Bersambung… Insya Allah.

Penulis: Ustadz Muhammad Hadi hafizhahullaahu ta’aalaa

Sumber

 
Komentar Dinonaktifkan pada Pengkhianatan Syi’ah dalam Lembaran Sejarah (bagian 2)

Ditulis oleh pada 28/11/2012 in Syiah

 

Tag: ,

Komentar ditutup.